Profil Perusahaan Gudang Garam -Salah satu perusahaan rokok terkenal di negeri ini, Gudang Garam berdiri di Kediri, Jawa Timur, sejak tahun 1958. Gudang Garam sekarang di kenal sebagai penghasil rokok kretek berkualitas tinggi di dalam negeri dan di luar negeri. Sigaret kretek linting-tangan (SKT), sigaret kretek linting-mesin (SKM), dan SKL adalah beberapa jenis produk yang di jual oleh Gudang Garam.
Sejarah dari 1956 hingga 1995
Perusahaan ini di mulai pada tahun 1956 ketika Tjoa Ing-Hwie atau Surya Wonowidjojo membeli lahan sekitar 1.000 meter persegi milik Muradioso di Jl. Semampir II/l, Kediri. Tjoa Ing-Hwie mulai memproduksi rokok sendiri di atas lahan tersebut. Dia memulai dengan rokok kretek dari kelobot dengan merek Inghwie, dan setelah beroperasi selama dua tahun, pada tanggal 26 Juni 1958, Tjoa Ing-Hwie mengubah nama perusahaannya menjadi Perusahaan Rokok Tjap Gudang Garam. Konon, Tjoa Ing-Hwie mendapatkan nama “Gudang Garam” dari mimpinya, dan perusahaan ini hanya mempekerjakan 50 orang pada awalnya.
Dengan ribuan pekerja dan kapasitas produksi 50 juta batang sigaret kretek tangan (SKT) per bulan, perusahaan ini menjadi produsen SKT terbesar di Indonesia pada tahun 1966.Perusahaan ini sempat kehilangan banyak karyawan karena krisis politik di Indonesia pada pertengahan tahun 60-an, tetapi ia cepat pulih.Perusahaan mengubah badan hukumnya menjadi firma (Fa) pada tahun 1969, dan kemudian kembali di ubah menjadi perseroan terbatas (PT) pada tanggal 30 Juni 1971. Pada tahun 1973, perusahaan mulai mengekspor barangnya ke luar Indonesia.
Group lain
Berbeda dengan Bentoel Group, yang telah membuat sigaret kretek mesin (SKM) sejak tahun 1970-an, perusahaan ini terus memproduksi SKT, dan baru pada tahun 1979 mereka mendapatkan mesin pembuat rokok. Produksi perusahaan kemudian meningkat dua kali lipat dari 9 miliar batang per tahun menjadi 17 miliar batang per tahun berkat mesin pembuat rokok tersebut.Perusahaan ini memiliki pabrik seluas 240 hektar yang dapat memproduksi 1 juta batang rokok per hari pada tahun 1980-an. Perusahaan ini memiliki omset US$ 7 juta dan menguasai 38% pangsa pasar. Perusahaan ini sekarang menjadi produsen kretek terbesar di Indonesia, dengan cukai yang di setor ke negara mencapai Rp 1 miliar per tahun.Pada saat itu, perusahaan memiliki 37.000 karyawan dan memiliki helikopter pribadi. Walaupun begitu, perusahaan ini tetap fokus memproduksi rokok dan kertas rokok. Kemudian, perusahaan ini mulai menyalurkan CSR untuk mendukung pengembangan tenis meja, antara lain.
Dua putra Surya, Rachman Halim dan Susilo Wonowidjojo, juga mulai aktif terlibat di perusahaan sejak tahun 1970-an. Setelah Surya Wonowidjojo meninggal pada tahun 1985, dua orang tersebut kemudian menjadi pimpinan perusahaan.Perusahaan ini resmi menjadi perusahaan publik pada tanggal 27 Agustus 1990 dengan melepas 57 juta saham di Bursa Efek Jakarta dan 96 juta saham di Bursa Efek Surabaya dengan harga perdana Rp 10.250 per lembar.Keluarga mendiang Surya Wonowidjojo—istrinya, Tan Siok Tjien, dan putranya, Rachman Halim—memiliki mayoritas saham perusahaan saat ini melalui PT Suryaduta Investama.
1996 hingga sekarang
Dengan pabriknya di Kediri, Sumenep, Karanganyar, dan Gempol, perusahaan ini menguasai sekitar 21% pangsa pasar rokok nasional pada tahun 2017.Pada 4 Agustus 2017, Japan Tobacco asal Jepang secara resmi membeli semua saham PT Karyadibya Mahardika dan PT Surya Mustika Nusantara.Setelah akuisisi, ada spekulasi bahwa perusahaan ini akan digabungkan atau diakuisisi oleh Japan Tobacco, tetapi perusahaan ini selalu menolaknya.
Perusahaan ini mendirikan tiga anak usaha baru pada tahun 2021 untuk berbisnis di impor, distribusi, dan produksi rokok elektrik, tetapi tiga perusahaan tersebut belum beroperasi. Kemudian, pada tahun 2022, perusahaan mendirikan PT Surya Kerta Agung untuk berekspansi ke bisnis pengelolaan jalan tol.