Perusahaan Blue bird Logo

Perusahaan Blue Bird telah setia menemani masyarakat Indonesia yang mendambakan bepergian secara praktis mengfungsikan taksi selama lebih berasal dari 1/2 abad, tepatnya 51 tahun. Berbagai tantangan bisnis, layaknya kehadiran kompetitor berasal dari sektor penyedia jasa transportasi online, udah sukses di hadapi oleh Blue Bird. Kini, perusahaan Blue Bird di sektor penyedia jasa transportasi udah makin kokoh berkat bermacam inovasi yang di hadirkan, terhitung pemakaian proses digital yang makin tenar sebagian sementara belakangan. Dengan bisnisnya yang makin stabil, pasti banyak orang menjadi penasaran siapa sosok di balik berdirinya perusahaan taksi dengan ciri khas berwarna biru muda ini.

Inilah Sosok Pemilik Blue Bird Pertama Kali

Sosok pendiri sekaligus pemilik Blue Bird pertama kali adalah Mutiara Siti Fatimah Djokosoetono. Wanita yang akrab di sapa Ibu Djoko ini lahir di Malang pada 17 Oktober 1921. Semasa kecilnya, Mutiara perlu menghadapi tantangan besar karena keluarganya mengalami kebangkrutan kala ia berusia 5 tahun. Namun, tantangan berikut mengakibatkan Mutiara tumbuh sebagai sosok wanita berkarakter tangguh dan pantang menyerah. Setelah beranjak dewasa, Mutiara menikah dengan Djokosoetono, seorang dosen yang terhitung jadi pendiri Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian. Sempat mengalami masalah ekonomipada 1950-an, Mutiara berupaya untuk mendukung finansial keluarga dengan berjualan batik berasal dari rumah ke rumah pada 1960-an.

Tak berhenti sampai di situ, Mutiara juga membangun usaha lain dengan jadi distributor telur. Dua usaha inilah yang jadi lumbung modal awal Mutiara untuk membangun usaha transportasi taksi.

Sejarah Pendirian Blue Bird dan Perjalanan Bisnisnya

Pada tahun 1965, Ibu Djoko dengan dengan dua anaknya, yakni Chandra Suharto dan Purnomo Prawiro menjadi mendirikan taksi tanpa argo bernama “Chandra Taxi”. Bisnis taksi tanpa argo ini di operasikan berasal dari kediaman keluarga Djokosoetono di Jalan Cokroaminoto Nomor 107. Hingga pada tahun 1972, Ibu Djoko dan keluarga secara formal meluncurkan Blue Bird yang di lengkapi dengan 25 armada Holden Torana.

Nama Blue Bird sendiri terinspirasi berasal dari dongeng asal Eropa yang berjudul “Bird of Happiness”, mencerminkan harapan untuk membawa kebahagiaan bagi para pelanggan.

Di awal pendiriannya, Blue Bird Slot Mahjong Ways jadi pelopor taksi yang mengfungsikan proses tarif berdasarkan argometer di Indonesia. Selanjutnya, usaha Blue Bird konsisten memperlihatkan pertumbuhan yang lumayan signifikan. Bahkan, pada tahun 1992, pengemudi taksi Blue Bird di percaya jadi pengemudi formal Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Non-Blok yang di selenggarakan di Jakarta tanggal 1-6 September 1992.

Perusahaan Blue Bird terhitung ikut meluncurkan taksi eksekutif bernama Silver Bird untuk sediakan fasilitas taksi mewah bagi masyarakat kelas menengah ke atas.

Seiring berjalannya waktu, Blue Bird makin memperlihatkan taringnya di sektor penyedia jasa transportasi. Bahkan, perusahaan milik Ibu Djoko ini udah formal tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada November 2014.

Tak sampai di situ, Blue Bird Group kini udah merambah ke bermacam lini usaha lain, di antaranya;

  • Penyewaan mobil limosin (Golden Bird).
  • Penyewaan bus (Big Bird).
  • Logistik (Iron Bird Logistik).
  • Properti (Holiday Resort Lombok dan Pusaka Bumi Mutiara).
  • IT (Hermis Consulting – IT SAP, Pusaka GPS, dan masih banyak lagi).
  • Alat berat (Pusaka Andalan Perkasa dan Pusaka Bumi Transportasi).

Kini, Blue Bird Group sedang di bawah kendali generasi ke dua dan ketiga Djokosoetono, terhitung Purnomo Prawiro, Sigit Priawan, serta Indra Priawan. Dari yang terbaru, Blue Bird Group telah meluncurkan taksi listrik pertama yang mengfungsikan armada mobil listrik brand BYD e6 untuk e-Bluebird dan Tesla X untuk e-Silverbird.

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *